googledd0973f9307bb074.html BUKU BUKAN KUBU: penerbit
Tampilkan postingan dengan label penerbit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penerbit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2009

Dian Rakyat, si Tua yang Masih Bercahaya





(kantor penerbit Dian Rakyat)

By Sahala Napitupulu.

Dian berarti pelita yang membawa cahaya terang. Itulah maksud kehadiran penerbit ini sejak awalnya. Memberi cahaya kepada rakyat Indonesia melalui bacaan dalam bentuk buku-buku bermutu. Sekarang umurnya sudah termasuk tua. Ia bersaing dengan penerbit-penerbit muda yang lebih agresif dalam merebut pasar. Mereka bahkan memiliki tim penulis kreatif. Namun, ia masih punya tempat istimewa dalam hati dunia perbukuan di Indonesia. Itulah penerbit Dian Rakyat.

Bermula di tahun 1943. Indonesia kala itu dibawah pendudukan tentara Jepang. Majalah Pujangga Baru yang telah terbit sejak Juli 1933 dilarang oleh Jepang. Pujangga Baru adalah majalah bulanan yang mengusung sejumlah pemikiran sastrawan, budayawan dan kaum intelektual Indonesia. Sebutlah seperti Arminj Pane, Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dan lain-lain. Kiblat pemikiran mereka adalah Barat dan nama STA berada dibarisan terdepan.

Dengan alasan ke Barat-baratan itu, Jepang lalu membekukan majalah Pujangga Baru. Tapi, STA tak menyerah. Sebagai gantinya, dia mendirikan penerbit dan percetakan Pustaka Rakyat. Disini terbit karya tulis STA, terutama tentang bahasa Indonesia. Diantaranya Tata Bahasa Baru Indonesia I dan II, Sejarah Bahasa Indonesia dan Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia. Sesudah kemerdekaan, ditahun 1962, Pustaka Rakyat berganti nama menjadi Dian Rakyat, dan nama itu bertahan hingga sekarang ini.

“ Masa itu, DR memang lebih dikenal sebagai penerbit buku-buku karya sastra. Karya-karya puisi Amir Hamzah, Chairil Anwar dan Arminj Pane termasuk yang pernah diterbitkan oleh DR, “ ujar Diana Susyanti, manager penerbitan DR. Namun, sejak era 1980-an, dia tidak hanya menerbitkan buku-buku sastra. Untuk bisa bertahan hidup, bersaing dengan penerbit-penerbit muda dan merebut pasar, katanya, mereka kemudian lebih memilih menerbitkan buku-buku Referensi Populer.

“ Yang kami maksud referensi populer bisa berupa buku refrensi dan bisa buku populer. Yang kami anggap sebagai referensi seperti buku kamus bahasa, kedokteran, hukum, agama, komputer dan lain-lain. Sedangkan buku-buku tentang hobbi, kuliner dan kerajinan bisa dimasukkan sebagai buku-buku populer, “ Diana menjelaskan. Dia telah bekerja lebih dari 10 tahun untuk penerbit ini. Kini, katanya, perusahaan membidik sasaran sebagai penerbit buku bacaan keluarga. Family’s Best Friend Publisher atau Penerbit Sahabat Keluarga Terbaik, itulah moto yang diusung DR sekarang.

Belum Bisa Online

Dahulu, DR sebetulnya telah tercitrakan sebagai penerbit buku-buku seri budaya dan sastra bermutu. Tak heran karena DR dipimpin langsung oleh STA, seorang budayawan, sastrawan dan akademisi. Namun dalam perkembangannya, setelah dipimpin oleh Mario, salah seorang putranya, citra itu telah bergeser. DR kini merebut perhatian kaum pelajar dan mahasiswa melalui buku-buku referensi. Buku-buku tentang Komputer terbitan DR amat diminati, terutama bagi para penggila komputer. Selebihnya adalah buku-buku kamus dan kedokteran.

Meski demikian, buku-buku DR sifatnya tidak membanjiri pasar. Buku terbitan DR tidak banyak bila dibandingkan dengan penerbit seperti Gramedia, Erlangga dan lain-lain. “ Konsep pemasaran kami memang bukan untuk membanjiri pasar seperti mereka. Untuk menjaga safety cash flow kami lebih memilih buku yang sifatnya longterm. Tidak apa-apa sedikit. Tapi buku yang sedikit itu hidupnya panjang dan bisa menguntungkan, “ urai Diana.

Sebagai penerbit DR memang punya sejarah tersendiri dan istimewa di negeri ini. Tak diragukan. Tapi kini, ia berada dalam persaingan bisnis, kompetisi dan promosi yang berapi-api. Beberapa penerbit kini sudah memiliki website sendiri. Sehingga buku-buku mereka, termasuk edisi terbaru, dapat diinformasikan kepada masyarakat melalui website tersebut. Bahkan masyarakat sekarang bisa membeli buku dengan sistem online. Tak kalah, Dian Rakyat juga memiliki website yang dapat dikunjungi di : http://www.dianrakyat.co.id/. Namun, sayang ketika Tapian mengunjungi situs tersebut, ternyata isinya tak pernah di up date. Itu-itu mlulu…! Capek deh..


*Tulisan ini juga dipublikasikan di majalah TAPIAN, edisi Februari 2009.

Selasa, 23 Desember 2008

Erlangga : Dari Rumah ke Dunia Maya




Membicarakan dunia buku, maka Indonesia adalah sebuah negeri penuh ironi. Pemerintah punya mimpi untuk mencerdaskan anak bangsa. Tapi, buku di Indonesia termasuk barang mahal. Di beberapa daerah, terutama sekolah-sekolah di pedesaan, buku pelajaran masih sering sulit di dapat. Dan itu masih terjadi hingga hari ini. Sebuah jurang kebodohan tercipta akibat dari kelangkaan buku. Karena itu, kehadiran penerbit semacam Erlangga menjadi sangat berarti. Mempersempit jurang kebodohan, tercitrakan dalam perjalanan penerbit ini.

Erlangga, penerbit yang banyak menaruh perhatian pada buku pelajaran sekolah. Perhatian itu sudah muncul sejak awal mulai berdirinya. Waktu itu tahun 1952. Adalah seorang guru berdarah Batak yang punya penciuman tajam. Maroelam Hutauruk namanya. Ia adalah seorang kepala sekolah SMA Negeri 1 di Semarang. Ia melihat banyak murid tidak bisa belajar dengan baik karena minimnya buku. Apalagi, buku pelajaran dalam bahasa Indonesia, yang waktu itu sangat sulit diperoleh. Untuk mengatasi kelangkaan buku tersebut, Maroelam kemudian mengajak kawan-kawannya sesama guru untuk menulis. Menulis buku pelajaran sekolah, tentunya. Tujuannya, untuk menggantikan buku-buku pelajaran berbahasa Belanda. Maka, di sebuah rumah di Semarang, mereka berhasil menulis beberapa buku. Antara lain buku pelajaran Ilmu Alam, karya Widagdo, Ilmu Kimia, karya Ir.Polling dan Ragam Bahasa Indonesia, karya Maroelam Hutauruk sendiri. Buku-buku itu semua diterbitkan dengan memakai nama Penerbit Erlangga.

Tapi, sebelum bermukim di Semarang, Maroelam lebih dulu telah mengarang buku Pelajaran Sejarah yang diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat, Yogya. Sebagai seorang guru dan ahli sejarah, rupanya ia sangat terkesan dengan sejarah hidup raja Erlangga. Sehingga, nama itulah kemudian dia jadikan sebagai nama penerbitan bukunya.

Pada mulanya, penerbit Erlangga bergerak dibidang pengadaan buku sekolah. Tapi, dalam perkembangannya, Erlangga kemudian merambah ke buku-buku umum. Menurut Dharma Hutauruk, dari divisi Marketing & Communication Erlangga, buku-buku terbitannya sekarang merambah juga ke buku kesehatan, makanan, kecantikan, mode,. Novel, hingga biografi. Sedangkan buku-buku bacaan untuk kebutuhan anak-anak, mereka terbitkan dibawah bendera Erlangga for Kids.

Melirik di dunia Maya

Lebih dari sepuluh tahun lalu, Erlangga membangun jaringan pemasarannya dengan memanfaatkan berbagai distributor buku. Bahkan, untuk menjangkau daerah-daerah di kabupaten, Erlangga mendirikan cabang-cabang dan perwakilan. Itulah salah satu strategi pemasaran yang dikembangkan Erlangga hingga hari ini. Erlangga kini memiliki perwakilanh di beberapa ibukota kabupaten, antara lain Tarutung, Dolok Sanggul, barus, Sorong (Papua), Tumohon (Sulawesi Utara) dan lain-lain. Tujuannya agar siswa, guru, mahasiswa dan masyarakat mudah memperoleh buku-buku Erlangga.

“ Dapat Anda bayangkan bagaimana siswa SMA di desa terpencil seperti Adiankoting di Tapanuli Utara akan belajar apabila perwakilan Erlangga tidak ada di Tarutung ? “ tanya Dharma Hutauruk seperti menepuk dada, bangga. “ Orangtua atau guru terpaksa harus membeli buku ke Medan atau minimal ke pajak Horas di Pematang Siantar. Demikian pula masyarakat Alas di kota Cane garus berangkat ke Medan seandainya Erlangga tidak ada di kota Cane. “ Menurut dia, Erlangga telah banyak membantu pemerintah dalam upaya mencerdaskan anak bangsa.

Erlangga juga membentuk unit Direct Selling atau sistem penjualan langsung. Melalui sistem ini, agen freelance dapat menjual buku-buku terbitan Erlangga ke kantor-kantor maupun ke perumahan. “ Mereka tentu akan mendapat imbalan komisi yang lebih besar dibanding dengan menjadi Anggota Club Erlanggta. Para Agen ini akan diberikan pelatihan sehingga mereka mandiri dan mendapat penghasilan yang lumayan, “ papar Dharma.

Untuk memudahkan masyarakat memperoleh buku-buku Erlangga, dibentuk pula komunitas pembaca dengan nama Erlangga Book Club. Keuntungan menjadi anggota club ini, pembeli akan memperoleh potongan harga sebesar 15 persen. Erlangga juga punya outlet atau toko buku sendiri, Eureka Book House, di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dan sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, bagi masyarakat yang ingin melirik buku-buku terbaru Erlangga pun dapat mengunjunginya di dunia maya : http://www.erlangga.co.id/.

(sahala napitupulu)

* Tulisan ini juga dipublikasikan di majalah budaya TAPIAN, edisi Januari 2009.

Selasa, 16 Desember 2008

Di Tepi Jurang Kebangkrutan



By Sahala Napitupulu.

Si tua yang sarat beban. Barangkali itulah julukan yang pantas untuk Balai Pustaka. Tua dan tertatih-tatih menanggung beban di pundaknya. Gamang untuk tetap hidup, tapi segan untuk mati. Tengoklah, umurnya jauh lebih tua dari umur negara Indonesia sendiri. Balai Pustaka atau Balai Poestaka adalah sebuah perusahaan penerbitan sudah berdiri sebelum kemerdekaan. Didirikan seratus tahun silam, tepatnya 14 September 1908, oleh pemerintah Hindia-Belanda dengan nama Commissie Voor de Volkslectuur atau Komisi Untuk Bacaan rakyat.

Komisi tersebut, dahulu didirikan untuk mengembangkan bahasa-bahasa daerah di Hindia-Belanda. Bahasa-bahasa daerah yang dimaksud adalah Jawa, Sunda, Melayu dan Madura.. Namun, ada juga yang menyebutkan Komisi ini didirikan untuk meredam dan mengalihkan gejolak perjuangan kaum pribumi melalui tulisan.

Konon, pada masa itu, berbagai tulisan anti-Belanda sudah mulai bermunculan di Koran-koran daerah, meski dalam skala kecil. Sehingga Komisi Untuk Bacaan Rakyat ini dipakai oleh Belanda untuk menyalurkan aspirasi penulis kaum pribumi secara elegan asal tidak bertentangan dengan kepentingan si penjajah Belanda. Tujuan lainnya, untuk menerjemahkan atau menyadur hasil sastra Eropa. Konon, supaya rakyat Indonesia terlupa dengan informasi yang berkembang di negerinya sendiri.

Tapi, ternyata tak semua kerja Komisi bikinan Belanda ini negatif. Karena, dalam perannya yang lain, pada masa itu, Komisi inilah yang merintis perpustakaan di tiap-tiap sekolah dan meminjamkan buku-bukunya secara teratur. Juga memberikan bantuan kepada pihak swasta untuk menyelenggarakan Taman Bacaan. Selain itu, Komisi ini juga menerbitkan majalah untuk bacaan rakyat. Sebutlah Sari Pustaka dan Panji Pustaka, yang terbit dalam bahasa Melayu dan Jawa. Ada lagi majalah Parahiangan, terbit dalam bahasa Sunda. Yang tak kalah penting, dalam proses sejarahnya, setelah berhasil sebagai pencetak, penerbit dan penjual majalah, komisi lalu berganti nama menjadi Balai Poestaka pada 22 September tahun 1917.

Gerakan sastra.

Begitulah proses yang melahirkan Balai Pustaka, yang kemudian dikenal sebagai penerbit buku-buku sastra. Kala itu, buku-buku terbitannya menjadi penting, karena ia menjadi semacam pusat gerakan sastra untuk melawan bacaan-bacaan berbau cabul yang banyak beredar, terutama dalam bahasa Melayu rendah. Cerita-cerita berbau cabul yang banyak beredar, terutama dalam bahasa Melayu rendah. Cerita-cerita berbau cabul waktu itu banyak menyoroti kehidupan nyai atau gundik-gundik Belanda. Sedangkan Balai Pustaka tampil dengan karya-karya sastra serius, seperti roman Siti Noerbaja, Dibawah Lindungan Ka’bah dan lain-lain. Dan buku-buku Balai Pustaka kala itu banyak ditulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Melayu tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Dan dalam jumlah terbatas ada pula dalam bahasa Bali, Batak dan Madura.

Sebagai sebuah “ gerakan “ sastra, para sastrawan Balai Pustaka di kemudian hari lebih dikenal sebagai Angkatan Balai Pustaka. Karya sastra mereka mendapat tempat terutama dikalangan kaum terpelajar dan para intelektual. Karya sastra mereka menggeser dominasi karya-karya Pujangga Lama dan Sastra Melayu Lama seperti pantun, gurindam dan hikayat. Berkat peranan Balai Pustaka, roman Siti Noerbaja karangan marah Rusli, Dibawah Lindungan Ka’bah karya Hamka, Atheis karya Achdiat K.Mihardja, Layar Terkembang buah pena Sutan Takdir Alisyahbana menjadi begitu terkenal hingga hari ini. Juga novel-novel Pramoedya Ananta Toer, seperti Di tepi Kali Bekasi.

Karya sastra dalam bahasa Jawa pun mendapat tempat. Ini terlihat dalam jumlah buku yang diterbitkan oleh Balai Poestaka berbahasa Jawa yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan berbahasa Melayu. Tengoklah pada katalog Balai Pustaka tahun 1920. Ada hampir 200 judul buku yang diterbitkan dalam bahasa Jawa, hampir 100 judul buku berbahasa Sunda, 80 judul berbahasa Melayu dan 40 judul berbahasa Madura. Di masa itu pula lahir novel Serat Rijanto karangan raden bagus Soelardi yang menjadi tonggak sastra Jawa Modern. Sedangkan Nur Sutan Iskandar boleh disebut pengarang paling produktif, karena banyak karya tulisnya diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Belanda kemudian kalah dalam perang melawan Jepang. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Balai Pustaka tetap dipertahankan. Hanya namanya berganti menjadi Gunseikanbu Kokumin Tosyokyoku, yang artinya lebih kurang Biro Pustaka Rakyat, Pemerintah Moliter Jepang. Dan sesudaj Indonesia merdeka, namanya dikembalikan lagi menjadi Balai Pustaka.

Tak diragukan, sepanjang sejarahnya, Balai Pustaka telah tercitrakan sebagai penerbit bermutu. Selain menerbitkan buku-buku pelajaran, yang kemudian disebarkan ke sekolah-sekolah, Balai Pustaka sangat berjasa dalam menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Balai Pustaka menerbitkan sekitar 350 judul buku pertahunnya. Meliputi Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamus bahasa-bahasa daerah, karya sastra, sosial, politik, agama, ekonomi dan lain-lain.

Karena perannya yang begitu besar dalam pencerdasan anak bangsa dan dalam menyebar luaskan bahasa Melayu sebagai cikal bahasa Indonesia, maka Balai Pustaka tetap dipertahankan hingga sekarang. Kalau bukan karena nilai historisnya itu, Balai Pustaka sudah lama dilupakan. Paling tidak, niat pemerintah untuk melikuidasinya pernah terungkap tahun 1990. Karena dia satu-satunya Badan Usaha Milik Negara yang berada dibawah naungan Departemen P&K yang dianggap hanya menjadi beban. Beban yang berat untuk dipikul karena banyaknya hutang yang melilit.

Pada awal 1970-an pengarang K.Usman, yang duduk sebagai staf, pernah dijebloskan ke dalam tahanan militer selama dua tahun, karena dia membongkar terjadinya korupsi besar-besaran di kantor kesayangannya itu. Pengarang asal Palembang ini diperlakukan semena-mena, tanpa proses hukum.

Direktur Utama Balai Pustaka sekarang, Dr Zaim Uchrawi, mantan wartawan majalah TEMPO dan Republika, mengutarakan sejumlah persoalan yang membelit Balai Pustaka. Katanya, sebelum dia dipercaya menjadi Direktur Utama ia telah mewarisi beban utang sekitar Rp 100 miliar. Belum termasuk hutang royalty senilai Rp 3,5 miliar pada penulis atau ahli waris dari pengarang yang karyanya dahulu diterbitkan Balai Pustaka.

Dalam kondisi terlilit hutang, jelas sulit bagi Balai Pustaka untuk bisa bergerak dan mengembangkan dirinya. Untuk menjadikan Balai Pustaka sebuah BUMN yang sehat, tentu saja sangat dibutuhkan kucuran dana dari pemerintah. Dan tak kalah penting, pemerintah harus segera mengambil tindakan : apakah Balai Pustaka akan dikembangkan atau ditutup saja atau diswastakan saja ? Karena pemerintah kelihatannya setengah hati. Balai Pustaka dibiarkan hidup sebagai BUMN, tapi nasibnya diabaikan.

* Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalah budaya TAPIAN, edisi Desember 2008.

Jumat, 12 Desember 2008

Djambatan, Riwayatmu Dulu,Nasibmu Kini

By.Sahala Napitupulu.

Meminjam kata sebuah iklan, kebodohan itu sangat dekat dengan kemiskinan. Untuk bisa keluar dari kemiskinan dan kebodohan maka diperlukan suatu jembatan. Nama jembatan itu adalah buku.

Di Indonesia, banyak buku beredar di masyarakat, salah satunya berkat jasa penerbit yang kebetulan bernama Djambatan. Gagasan untuk mendirikan penerbit ini bermula dari Djamaludin Adinegoro, Kasoema Soetan Pamoentjak,Prof. Ir Soetomo Wongsotjitro, Dr.Achmad Ramali St.Lembang Alam, Intojo, Hendrik Mattheus van Randwijk dan Cornelis de Koning. Semua telah tiada. Sementara direksi dan karyawannya keluar masuk silih berganti.

Hari itu, di Jakarta, tanggal 19 Februari 1954, ketujuh orang yang berniat baik tersebut datang menghadap notaries Raden Mr.Soewandi untuk dibuatkan akte pendirian perseroan terbatas dengan nama N.V.Penerbit Djambatan-Djakarta. Hari itu adalah hari lahir penerbit Djambatan. Tetapi, cikal bakalnya ada di negeri Belanda. Sebab, sebelumnya telah ada beberapa buku karangan dan terjemahan orang Indonesia yang diterbitkan disana oleh penerbit yang bernama De Brug-Djambatan. Misalnya, buku Dari Ekonomi Pendjajahan Ke Arah Ekonomi Kebangsaan, karya Th.A Fruin, diterbitkan atas nama N.V.Djambatan-Amsterdam tahun 1949.

Begitulah menurut catatan Jaap Erkelens, orang yang pernah duduk sebagai Kepala Perwakilan KITLV di Jakarta, dari tahun 1974 sampai 2003. KITLV adalah akronim dari Koninklijk Instituut voor Taal, Landen Volkenkunde. Ia adalah sebuah lembaga penelitian yang khusus bergerak dalam bidang-bidang ilmu sosial dan kemanusiaan Asia Tenggara dengan kantor pusatnya berada di Leiden, Belanda.

Erkelens, dalam penelusurannya terhadap koleksi perpustakaan KITLV yang ada di Leiden, menemukan ada sekitar 465 judul buku pernah diterbitkan oleh Djambatan selama tahun 1949 sampai 2002. Dari 465 judul buku itu, ada sebanyak 69 buku berupa keluaran tahun 1949 sampai 1953. Jadi, sebelum lahirnya penerbit Djambatan-Djakarta. Rupanya buku-buku karangan atau terjemahan orang Indonesia yang dicetak di negeri Belanda itu banyak dimasukkan ke Indonesia melalui sebuah yayasan yang juga bernama De Brug (bahasa Belanda berarti Jembatan). Tokoh utama dibalik proses sejarah ini ialah Hendrik Mattheus van Randwijk dan Cornelis de Koning. Begitulah cerita hubungan historis antara penerbit Djambatan di Jakarta dengan penerbit Djambatan di Amsterdam.

Katalog, Pamflet dan Brosur

Ketujuh pendiri tersebut ada yang berprofesi sebagai wartawan, pengarang, penerjemah dan pegawai dari Kabinet Presiden RI. Hanya ada dua orang yang sudah berpengalaman dalam usaha penerbitan, yaitu Cornelis de Koning yang berasal dari yayasan De Brug-Amsterdam dan Kasoema Soetan Pamoentjak, mantan Kepala Balai Pustaka, Jakarta. Namun, sejak awal, para pendiri tersebut telah berketetapan hati untuk menjadikan Djambatan tidak semata sebagai usaha komersial, melainkan perusahaan yang akan menerbitkan bacaan-bacaan bermutu.

Kesadaran itulah yang terus dikembangkan oleh Kasoema Soetan Pamoentjak manakala ia duduk sebagai direktur pertama (1954-62). Sebagai orang yang selalu aktif dalam gerakan dan organisasi kebudayaan dan politik pada masa kepemimpinannya, ia berhasil menarik orang-orang terkemuka Indonesia. Mohammad Hatta, Mohammad Yamin dan Dr Soepomo SH adalah beberapa nama yang pernah mempercayakan naskah mereka untuk diterbitkan oleh Djambatan. Rintisan Kasoema Soetan Pamoentjak itu kemudian diteruskan oleh direksi generasi selanjutnya, seperti Dr Sjahrial Muin, Gadis Rasid, Roswita P Singgih, Sjarifuddin dan kini Zulkarnaen (cucu Dr Achmad Ramali).

Dalam perjalanan usianya yang sekarang 55 tahun, perusahaan ini telah menerbitkan lebih kurang 1000 judul buku. Sambutan masyarakat terhadap buku-buku Djambatan tak diragukan lagi karena telah tercitrakan sebagai penerbit buku bermutu. Banyak bukunya yang mengalami cetak ulang berkali-kali dan tetap masih dicari masyarakat. Sebutlah seperti buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, karya Dr Koentjaraningrat, mengalami 29 kali cetak ulang. Novel Burung-Burung Manyar, karya Y B Mangunwijaya 12 kali cetak ulang. Buku How to Master the Indonesian Language, karya A M Almatsier 19 kali. Atlas Anatomi, karya Chr P Raven 22 kali. Bahkan buku Kamus Kedokteran, karya Dr Achmad Ramali dan K St Pamoentjak tercatat 25 kali cetak ulang.

Penjualan buku terbitan Djambatan dilakukan baik secara retail melalui toko-toko buku maupun penjualan langsung kepada instansi dan perorangan. Pemasaran dilakukan melalui katalog, pamflet dan brosur yang disebarkan kepada toko-toko buku dan tempat lainnya. Selain aktif mengikuti berbagai pameran buku di Indonesia tentunya.

Sudah Dijual

Namun, krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997, ketatnya persaingan para penerbit sementara masih rendahnya minat baca masyarakat, berimbas juga terhadap Djambatan. Untuk bisa bertahan, Djambatan harus melakukan perampingan karyawan dan melakukan tindakan efisiensi lainnya. Jumlah karyawan yang semula 60 orang, kini tinggal 10. Tim pemasaran dan cara-cara pemasaran lama, terpaksa dievaluasi, oleh karena omzet penjualan Djambatan yang tadinya bisa ratusan juta per bulan, kini tinggal setengahnya.

Mula-mula berkantor di Jl.Ir H Juanda No.15. Karena perkembangannya, tahun 1973 Djambatan pindah ke Jl Kramat Raya No.152. Disini kantor dan toko buku menyatu. Namun, sejak Oktober 1983 bagian penerbitan (redaksi dan produksi) pindah ke Jl Wijaya I/39, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sedangkan bagian gudang dan toko buku sejak 1992 pindah ke Jl Paseban No.29, Jakarta Pusat. Tetapi, sekarang yang ada hanya tinggal yang di Paseban, sebagai kantor sekaligus toko buku. Satu-satunya. Kantor Djambatan yang di Kebayoran Baru sudah dijual.

Meski demikian, Zainudin, Dirut Djambatan yang baru tetap optimis Djambatan akan bisa sehat kembali. Dalam perbincangan dengan TAPIAN, beberapa waktu lalu, dia mengutarakan beberapa langkah persiapan yang sudah dia lakukan. “ Pertama, yang akan saya lakukan adalah pengendalian biaya usaha. Kedua, untuk produk-produknya kita tidak bisa lagi mengandalkan bahan buku lama, termasuk pengarang-pengarangnya. Dalam menggencarkan pemasaran yang baru nanti Djambatan akan membentuk tim kreatif sendiri, termasuk tim penulisnya. Kemudian Djambatan tidak lagi harus mengandalkan outlet penerbit besar, seperti Gramedia dan Gunung Agung. Saya berusaha untuk membentuk tim distributor yang akan masuk ke kampus-kampus dengan membuka penjualan buku-buku Djambatan yang jauh lebih murah tentunya daripada membelinya di toko-toko buku. Dan, sesuai dengan perkembangan teknologi sekarang, Djambatan pun akan membuka toko buku Djambatan online, “ katanya memaparkan dengan bersemangat.

Sepanjang sejarahnya, memang belum pernah ada buku-buku terbitan Djambatan yang dilarang beredar. Beberapa judul buku malah pernah menerima penghargaan. Menyebut beberapa judul yang pernah menerima penghargaan berdasarkan kriteria isi buku, antara lain : Ziarah, novel Iwan Simatupang, pemenang hadiah sastra Asean 1972 dan Burung-Burung Manyar, pemenang South East Asia Write Award 1983.

* Tulisan ini telah dipublikan sebelumnya di majalah budaya TAPIAN, edisi Oktober 2008, dalam rubrik Dibalik Buku.