
By Sahala Napitupulu.
Dari keuntungan menjual buku-buku bekas ini dia dapat membantu adiknya kuliah. Jenis buku yang dia jual kebanyakan buku pelajaran dan buku umum, sehingga tidak heran pembelinya banyak dari kalangan pelajar dan mahasiswa. “ Jika musim awal pelajaran, awal kuliah, penjualan kami bisa meningkat sampai 70 persen, “ katanya. Dia berterus terang menceritakan dia juag menjual buku-buku bajakan, untuk meraih keuntungan yang lebih besar. Penjualannya sehari bisa sampai Rp 100.000. Tahun ajaran baru berarti panen besar. Penjualan bisa mencapai jutaan rupiah.
Senada dengan Hendra adalah Elistra boru Simanjuntak. Sudah
Buat peminat buku dengan kantong pas-pasan, keberadaan pedagang buku bekas amat membantu. Karena harganya yang miring. Pembelinya sendiri kadang tidak terlalu perduli apakah itu buku bekas, buku asli atau buku bajakan. Yang penting harganya murah. Robinson Tambunan paham benar tentang sikap pembeli itu. Karena itu, ia mengakui hanya mengambil keuntungan sedikit, antara 5 sampai 10 persen.
Diantara buku-buku bekas, banyak juga buku-buku baru yang digelar. Menurut penjelasan beberapa pedagang, mereka memang menerima pasokan dari beberapa penerbit untuk dipasarkan. Sifatnya bisa dibayar berjangka, sesuai dengan kesepakatan. Robinson Tambunan sendiri mengaku lebih memilih pembelian secara “putus”, sehingga tidak ada hutang-piutang.
Dikalangan pedagang ada perbedaan istilah buku tua (kuno) dengan buku langka. Kata Dolly Irwansyah Siregar, yang disebut buku kuno itu semata-mata dihitung berdasarkan tahun penerbitannya. Sedangkan yang disebut buku langka karena memang bukunya itu sudah langka di pasar.
“ Dahulu pada masa ayah saya, pernah ada orang asing menawar buku karya Georgius E.Rumphius, berjudul Amboinsch Kruidboek, terbitan tahun 1743, buku tentang rempah-rempah di Indonesia, seharga 50 juta rupiah, tapi enggak dilepas, “ katanya Dolly. Karena buku itu sangat langka. “ Buku tua itu, kalau kita tahan, tambah lama, tambah tahun, lebih tinggi lagi harganya, “ katanya senang. “ Yang sudah dilepas adalah buku Oud en Nieuwe Oost Inddnen, penulis Valentijin, terbitan tahun 1747, seharga 50 juta. Pembelinya orang Jerman. “
Dengan menempati beberapa kios di sebuah anjungan Papua, Dolly menjajakan buku-bukunya kepada para pengunjung TMII. Sama seperti Hendra Marpaung, dia menjadi penjual buku karena meneruskan usaha yang telah dirintis almarhum ayahnya. Ia mengaku senang dengan profesinya ini, karena selain keuntungannya lumayan, dia dapat menyalurkan minatnya pada sejarah.
Buku-buku kuno, buku-buku langka, yang dia jual dengan harga tinggi memang hanya untuk kalangan tertentu. Diantaranya para peneliti, atau yang akan menyusun disertasi serta kalangan perpustakaan. Selebihnya adalah para kolektor buku tua. Memiliki buku kuno atau buku langka, selain menyimpan nilai historis dan berisi ilmu pengetahuan, boleh jadi bagian dari
Buku, sebagai benda bisa saja kita sebut sebagai buku bekas, buku loak, buku kuno atau buku langka. Namun, dia adalah jendela dunia, sumber ilmu pengetahuan yang tidak mengenal istilah “bekas”.
* Tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di majalahTAPIAN, edisi Agustus 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar